Lindungi industri kecil dan menengah dalam negeri, pemerintah melalui Bea Cukai mengubah aturan terkait impor barang kiriman lewat e-commerce.  Melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.04/2018, pemerintah melakukan penyesuaian nilai pembebasan (de minimalis value) bea masuk dan pajak dalam rangka impor (PDRI) atas barang kiriman dari sebelumnya USD 100 menjadi USD 75 per penerima per hari.

Peraturan terbaru tersebut disahkan pada 10 September dan otomatis berlaku secara resmi terhitung 30 hari setelah disahkannya, yakni pada 10 Oktober 2018. Pada aturan sebelumnya, yakni PMK 182/PMK.04/2016, importir bisa mengimpor barang berkali-kali dalam satu hari tanpa dikenakan bea masuk dan PDRI selama nilai per kiriman tidak melebihi USD 100.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi mengungkapkan bahwa kebijakan ini diambil untuk menciptakan level playing field antara hasil produksi dalam negeri yang produknya mayoritas berasal dari IKM yang membayar pajak dengan produk-produk impor melalui barang kiriman serta impor distributor melalui kargo umum yang masih banyak beredar di pasaran.   “Pemerintah ingin masyarakat memanfaatkan pembebasan bea masuk dan PDRI untuk barang kiriman yang memang ditujukan untuk keperluan pribadi. Selain itu pemerintah tentu ingin mendorong produksi lokal dan mendorong penggunaan produk-produk dalam negeri.” tambah Heru.

Untuk mendukung penegakan perubahan aturan ini, Bea Cukai juga telah menerapkan smart system berupa system validasi dan verifikasi anti splitting dalam aplikasi impor barang kiriman dengan menggunakan algoritma khusus. “Bea Cukai juga akan mengintegrasikan system aplikasi barang kiriman dengan aplikasi lain terkait dengan prosedur penutupan manifes, system keberatan dan banding, serta pembetulan penetapan Pejabat Bea Cukai.” ujar Heru.

Perubahan aturan ini merupakan upaya nyata Bea Cukai untuk mengakomodir masukan dari para pelaku industri dalam negeri khususnya IKM, untuk mengeliminasi kesenjangan antara produk dalam negeri yang membayar pajak dengan produk impor yang masih membanjiri pasaran Indonesia.

Penyesuaian de minimalis value ini juga merupakan rekomendasi dari World Customs Organization dimana hasil studi tentang perkembangan e-commerce menunjukkan bahwa praktik under-declaration, under-valuation, misdeclaration, splitting barang kiriman kian marak. Studi ini juga didukung oleh data penindakan yang telah dilakukan Bea Cukai, khususnya dimana terdapat importir yang melakukan 400 kali impor dalam satu hari dengan nilai rata-rata per invoice-nya sekitar USD 75. Hal ini merupakan modus yang  berhasil diendus Bea Cukai agar importir terbebas dari pengenaan bea masuk dan PDRI.

Yang lebih mengejutkan, praktik tersebut dilakukan dari satu supplier di luar negeri dengan nilai USD 20.300 dalam satu hari.  Hal ini tentu menyebabkan terganggunya industry dalam negeri dan produksi local, di samping hilangnya potensi penerimaan negara, oleh karena itu jika WCO merekomendasikan de minimalis value sebesar USD 75.  Nilai ini masih lebih tinggi jika dibandingkan negara Thailand yang hanya memberikan nilai pembebasan sebesar USD 28 dan Kanada sebesar USD 15.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *